Kamis, 23 April 2026

Arus Peti Kemas di TPK Sorong Tumbuh 10% Pada Triwulan I 2026



SORONG (ChgannelindonesiaTV.Com, 16/4/2026) - PT Pelindo Terminal Petikemas (SPTP) mencatat kinerja positif di Terminal Peti Kemas (TPK) Sorong sepanjang triwulan I 2026. Arus peti kemas (throughput) tercatat mencapai 16.131 TEUs, atau tumbuh 10 persen dibandingkan target perusahaan hingga Maret 2026 sebesar 14.616 TEUs.


Peningkatan ini antara lain dipicu oleh momentum angkutan barang selama periode Hari Raya Idulfitri pada Februari hingga Maret, serta tambahan arus peti kemas dari perubahan pola distribusi (transhipment) kapal PT SPIL yang kini melalui Pelabuhan Sorong.


Terminal Head TPK Sorong, Welta Selfie, menyebut pertumbuhan tersebut tidak terlepas dari proses transformasi terminal. “Pelabuhan Sorong yang sebelumnya beroperasi secara konvensional kini telah berkembang menjadi terminal petikemas yang lebih modern dan terstandarisasi,” ujarnya.


Menurut Welta, peningkatan kapasitas sumber daya manusia menjadi salah satu fokus utama. Pembekalan dan penyegaran pengetahuan kepelabuhanan terus dilakukan untuk memastikan petugas operasional memiliki kompetensi yang memadai dalam mendukung kelancaran layanan. “Penguatan SDM penting agar siap menghadapi dinamika industri logistik yang semakin kompetitif,” katanya.


Ketua ALFI/ILFA Pelabuhan Sorong, Wawan, mengingatkan agar capaian tersebut tidak membuat manajemen berpuas diri. Ia menilai pertumbuhan throughput perlu dijaga melalui kolaborasi dengan para pemangku kepentingan, khususnya pelaku Jasa Pengurusan Transportasi (JPT).


“Sinergi dengan stakeholder menjadi kunci untuk menjaga kelancaran arus logistik di Sorong dan sekitarnya. TPK Sorong juga perlu terus memantau tren kinerja agar pertumbuhan tetap berkelanjutan,” ujar Wawan.


Ia juga menekankan pentingnya menjaga kualitas layanan serta keterbukaan terhadap masukan pengguna jasa sebagai bagian dari upaya perbaikan berkelanjutan.


Selain peningkatan operasional, manajemen TPK Sorong mulai mendorong inisiatif keberlanjutan. Salah satunya melalui rencana pembangunan rumah pembibitan tanaman sebagai bagian dari program pelestarian lingkungan.


Langkah tersebut diharapkan dapat mendukung transformasi TPK Sorong menjadi terminal yang tidak hanya efisien secara operasional, tetapi juga berkelanjutan dalam jangka panjang.


(Redaksi CI-TV//Corcom SPTP).

Perkuat Fondasi Operasional, TPK Bagendang Bumiharjo Siap Akselerasi Kinerja di Semester II 2026



SAMPIT KALIMANTAN (17/04/2026) - Terminal Peti Kemas (TPK) Bagendang Bumiharjo memanfaatkan triwulan pertama tahun 2026 untuk memperkuat fondasi operasional melalui berbagai langkah transformasi dan peningkatan efisiensi layanan, di tengah dinamika arus logistik pada awal tahun.


Sepanjang triwulan pertama 2026, TPK Bagendang Bumiharjo mencatatkan arus bongkar muat sebesar 25.063 TEUs, atau mengalami penyesuaian dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penyesuaian volume arus logistik ini dipengaruhi oleh dinamika pola distribusi barang serta aktivitas industri di awal tahun. Kondisi tersebut merupakan bagian dari siklus logistik yang turut dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal.


Menanggapi dinamika penurunan kunjungan kapal yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir Branch Manager PT Meratus Line Kumai & Sampit, M. Arif Wicaksono, turut memberikan pandangan terkait kondisi operasional yang berlangsung di lapangan.


“Memang terjadi penurunan kunjungan kapal pada dua bulan terakhir dikarenakan penuhnya tambatan di pelabuhan asal akibat lonjakan arus di berbagai daerah. Sehingga, ada beberapa kapal kami yang harus sandar di pelabuhan lain, seperti Pelabuhan Lamongan. Namun, kondisi ini berangsur-angsur membaik. Kami yakin akan ada kenaikan throughput pada bulan-bulan selanjutnya,” ujar,.


Menanggapi dinamika tersebut, sejumlah inisiatif strategis dijalankan TPK Bagendang Bumiharjo, di antaranya optimalisasi pemanfaatan lapangan penumpukan (container yard), peningkatan utilisasi peralatan, serta penguatan fungsi perencanaan dan pengendalian operasional. Upaya ini juga difokuskan pada percepatan layanan kapal, khususnya melalui efisiensi waktu sandar (berthing time), guna meningkatkan produktivitas terminal.


Terminal Head TPK Bagendang Bumiharjo, Akhmad Fajar, menyampaikan bahwa triwulan pertama menjadi titik penting dalam mendorong percepatan transformasi operasional.


“Kami menjadikan triwulan pertama sebagai trigger untuk mempercepat transformasi, dengan fokus pada efisiensi waktu sandar kapal, peningkatan utilisasi alat, dan penguatan kolaborasi dengan stakeholder,” ungkap Fajar.


Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa kualitas layanan tetap menjadi prioritas utama di tengah dinamika volume yang terjadi.


“Walau volume logistik mengalami penurunan, service level tetap terjaga. Kami optimistis kinerja akan berangsur membaik seiring peningkatan aktivitas logistik ke depan,” pungkasnya.


(Redaksi CI-TV/Corcom SPTP)..

 


Memasuki bulan April yang bertepatan dengan momentum peningkatan aktivitas logistik, TPK Bagendang Bumiharjo telah memastikan kesiapan operasional baik dari sisi sumber daya manusia, peralatan, maupun sistem layanan.


 


Dengan berbagai langkah transformasi yang telah dilakukan serta dukungan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, TPK Bagendang Bumiharjo optimistis dapat mendorong kinerja yang lebih positif pada triwulan berikutnya dan terus berperan dalam menjaga kelancaran arus logistik di Kalimantan.

IPCC BUKUKAN PERTUMBUHAN KINERJA OPERASI 7,35% PADA TRIWULAN I 2026, Siap MENEMBUS TANTANGAN GLOBAL

 


JAKARTA (Channelindonesiatv.com, 22 April 2026) - Di tengah dinamika geopolitik global yang menekan permintaan dan menahan laju distribusi kargo internasional, PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IDX:IPCC) tetap menunjukkan ketahanan terhadap kinerja dengan mencatat pertumbuhan operasi secara konsolidasi sebesar 7,35%, tercatat 297.972 unit lebih tinggi atau 20.409 unit lebih banyak dari periode tahun lalu yang tercapai 277.862 unit.


Capaian ini mencerminkan efektivitas penerapan mitigasi risiko yang terintegrasi serta konsistensi perseroan dalam memperkuat hubungan dengan pelanggan dan para pemangku kepentingan. Sebagai perusahaan yang berfokus pada layanan terminal kendaraan (car terminal) terintegrasi, IPCC mengelola aktivitas bongkar muat, penyimpanan, hingga distribusi kendaraan secara end-to-end untuk pasar domestik dan internasional.


Dalam struktur ekosistem kepelabuhanan nasional, IPCC merupakan bagian dari subholding PT Pelindo Multi Terminal (SPMT) yang berada di bawah naungan Pelindo Group, sehingga berperan strategis dalam mendukung kelancaran rantai logistik maritim nasional, khususnya pada segmen kendaraan dan alat berat melalui layanan yang andal, efisien, dan berorientasi pada keberlanjutan.


Pertumbuhan kargo pada terminal-terminal yang dikelola oleh IPCC dapat tercermin dari capaian kunjungan kapal konsolidasi yang mencapai 901 call atau meningkat 103 kunjungan secara tahunan (YoY), setara dengan pertumbuhan sebesar 12,91%. Dimana arus kunjungan kapal pada berbagai area Terminal Satelit secara konsolidasi tercatat 682 call, lebih banyak 135 call atau 24% secara year on year. 


Selain itu, pertumbuhan paling menonjol juga terlihat pada segmen kargo Truck/Bus yang mencatatkan peningkatan sebesar 45,14% YoY atau bertambah 22.929 unit dibandingkan periode sebelumnya serta secara total tercatat 73.723 unit. Secara keseluruhan, kinerja operasional terminal kendaraan baik di wilayah Branch Jakarta maupun terminal satelit (konsolidasi)  yang meliputi CBU, alat berat, serta Truck/Bus masing-masing mencatatkan kinerja yang berbanding terbalik sebesar (3,97)% dan 21,47%, hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor geopolitik baik nasional maupun global.


Realisasi aktivitas bongkar muat kendaraan utamanya pada sisi Ekspor hingga triwulan I(satu) mengalami peningkatan sebesar 13% atau secara total 91.768 unit, tercatat 10.430 lebih banyak. Hingga Maret 2026, perseroan mencatatkan penanganan kargo CBU konsolidasi sebanyak 216.238 unit, menurun tipis sekitar (1,2%) secara tahunan (YoY).


Kondisi ini sekaligus memberikan kewaspadaan bagi IPCC ditengah kondisi geopolitik global yang agile dan menurunnya daya beli masyarakat, yang mungkin berdampak pada kinerja keuangan perusahaan. Penurunan angka penanganan bongkar muat IPCC hingga bulan Maret 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya tidak terlepas dari tekanan dinamika geopolitik global yang berdampak pada perlambatan permintaan serta terganggunya kelancaran distribusi kargo internasional. Ketidakpastian pasar, penyesuaian produksi dari sejumlah automaker, serta tertahannya arus logistik lintas negara turut memengaruhi volume throughput kendaraan yang ditangani perseroan pada triwulan I(satu) tahun 2026.


Pada layanan kargo truk dan bus, IPCC mencatat pertumbuhan paling signifikan sebesar 45,14% secara tahunan (YoY), tercatat 73.723 unit lebih banyak seiring meningkatnya aktivitas sektor pertambangan dan penambangan domestik yang terdorong oleh implementasi kebijakan hilirisasi industri sumber daya mineral. Di sisi lain, program pemerintah melalui Kementerian Pertanian Republik Indonesia yang berfokus pada penguatan swasembada pangan—melalui peningkatan produktivitas pertanian, pengembangan lahan sawah baru, serta hilirisasi sektor pertanian—juga turut meningkatkan kebutuhan alat produksi dan sarana angkut yang distribusinya dilayani melalui terminal kendaraan yang dikelola IPCC


Adapun selama tiga bulan pertama tahun 2026 perseroan berhasil melayani 8.011 unit Alat Berat atau 1,32% lebih tinggi secara yoy. Peningkatan kinerja operasi kargo alat berat IPCC pada bulan Maret 2026 dibandingkan periode yang sama tahun 2025 didorong oleh meningkatnya aktivitas sektor pertambangan yang kembali menunjukkan tren ekspansif. Kenaikan permintaan terhadap komoditas tambang, baik untuk pasar domestik maupun ekspor, mendorong kebutuhan mobilisasi alat berat seperti excavator, bulldozer, dan dump truck, yang secara langsung berdampak pada peningkatan volume kargo yang ditangani perseroan.


Selain itu, integrasi layanan melalui pendekatan Cargo Distribution Management (CDM), termasuk dukungan inland logistics, memungkinkan distribusi alat berat menjadi lebih efisien dan terukur. Hal ini tidak hanya meningkatkan throughput, tetapi juga memperkuat posisi IPCC sebagai mitra strategis dalam rantai pasok industri alat berat dan pertambangan. Secara keseluruhan, peningkatan kinerja ini mencerminkan kemampuan IPCC dalam beradaptasi dan memanfaatkan peluang dari sektor non-otomotif, sekaligus memperkuat diversifikasi bisnis untuk menjaga pertumbuhan yang berkelanjutan di tengah tantangan global. Pertumbuhan pada segmen truck, bus dan alat berat secara konsolidasi menunjukkan pertumbuhan yang signifikan dan menandakan bahwa aktivitas logistik otomotif tetap bergerak positif, sekaligus memperkuat peran IPCC dalam mendukung kelancaran distribusi kendaraan baik untuk pasar domestik maupun ekspor,” ujar Bagus Dwipoyono, Direktur Operasi dan Teknik IPCC.


Sejalan dengan penguatan peran perusahaan dalam mendukung rantai pasok industri nasional yang berkelanjutan, IPCC melakukan integrasi layanan berbasis digitalisasi dengan menggabungkan konektivitas antar terminal melalui sistem PTOS-C. “Peningkatan kinerja operasional pada triwulan 1(satu) tahun 2026 untuk berbagai jenis kargo yang dilayanani menunjukkan bahwa inisiatif strategis inovasi bisnis yang dijalankan IPCC mampu merespons dinamika kebutuhan industri secara adaptif serta menjawab tantangan geopolitik global. Melalui penguatan jaringan terminal, optimalisasi sistem operasional terintegrasi, serta penerapan prinsip tata kelola perusahaan yang baik, kami optimis IPCC dapat memberikan nilai tambah yang berkelanjutan dan bertanggungjawab sekaligus memberikan kontribusi nyata dalam mendukung efisiensi biaya pada rantai pasok industri nasional sehingga semakin kompetitif,” ucap Endah Dwi Liesly Sekretaris Perusahaan IPCC.


(Redaksi CI-TVCorcom IPCC).

IPCC Posts 7.35% Operational Performance Growth in the First Quarter of 2026, Ready to Meet Global Challenges



JAKARTA (ChannelindonesiaTV.Com, April 22, 2026) - Amidst global geopolitical dynamics that suppress demand and restrain the pace of international cargo distribution, PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IDX:IPCC) continues to demonstrate resilience in performance by recording consolidated operational growth of 7.35%, recorded at 297,972 units higher or 20,409 units more than the period last year which reached 277,862 units.


This achievement reflects the effectiveness of its integrated risk mitigation implementation and the company's consistency in strengthening relationships with customers and stakeholders. As a company focused on integrated car terminal services, IPCC manages end-to-end vehicle loading, unloading, storage, and distribution for domestic and international markets.


In the structure of the national port ecosystem, IPCC is part of the subholding of PT Pelindo Multi Terminal (SPMT) which is under the auspices of the Pelindo Group, thus playing a strategic role in supporting the smooth running of the national maritime logistics chain, especially in the vehicle and heavy equipment segments through reliable, efficient, and sustainability-oriented services.


Cargo growth at IPCC-managed terminals is reflected in consolidated vessel calls, which reached 901, representing an increase of 103 calls year-on-year (YoY), representing a 12.91% increase. Consolidated vessel calls to various Satellite Terminal areas reached 682 calls, a 24% increase year-on-year (YoY). 


Selain itu, pertumbuhan paling menonjol juga terlihat pada segmen kargo Truck/Bus yang mencatatkan peningkatan sebesar 45,14% YoY atau bertambah 22.929 unit dibandingkan periode sebelumnya serta secara total tercatat 73.723 unit. Secara keseluruhan, kinerja operasional terminal kendaraan baik di wilayah Branch Jakarta maupun terminal satelit (konsolidasi)  yang meliputi CBU, alat berat, serta Truck/Bus masing-masing mencatatkan kinerja yang berbanding terbalik sebesar (3,97)% dan 21,47%, hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor geopolitik baik nasional maupun global.


Realisasi aktivitas bongkar muat kendaraan utamanya pada sisi Ekspor hingga triwulan I(satu) mengalami peningkatan sebesar 13% atau secara total 91.768 unit, tercatat 10.430 lebih banyak. Hingga Maret 2026, perseroan mencatatkan penanganan kargo CBU konsolidasi sebanyak 216.238 unit, menurun tipis sekitar (1,2%) secara tahunan (YoY).


Kondisi ini sekaligus memberikan kewaspadaan bagi IPCC ditengah kondisi geopolitik global yang agile dan menurunnya daya beli masyarakat, yang mungkin berdampak pada kinerja keuangan perusahaan. Penurunan angka penanganan bongkar muat IPCC hingga bulan Maret 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya tidak terlepas dari tekanan dinamika geopolitik global yang berdampak pada perlambatan permintaan serta terganggunya kelancaran distribusi kargo internasional. Ketidakpastian pasar, penyesuaian produksi dari sejumlah automaker, serta tertahannya arus logistik lintas negara turut memengaruhi volume throughput kendaraan yang ditangani perseroan pada triwulan I(satu) tahun 2026.


Pada layanan kargo truk dan bus, IPCC mencatat pertumbuhan paling signifikan sebesar 45,14% secara tahunan (YoY), tercatat 73.723 unit lebih banyak seiring meningkatnya aktivitas sektor pertambangan dan penambangan domestik yang terdorong oleh implementasi kebijakan hilirisasi industri sumber daya mineral. Di sisi lain, program pemerintah melalui Kementerian Pertanian Republik Indonesia yang berfokus pada penguatan swasembada pangan—melalui peningkatan produktivitas pertanian, pengembangan lahan sawah baru, serta hilirisasi sektor pertanian—juga turut meningkatkan kebutuhan alat produksi dan sarana angkut yang distribusinya dilayani melalui terminal kendaraan yang dikelola IPCC


Adapun selama tiga bulan pertama tahun 2026 perseroan berhasil melayani 8.011 unit Alat Berat atau 1,32% lebih tinggi secara yoy. Peningkatan kinerja operasi kargo alat berat IPCC pada bulan Maret 2026 dibandingkan periode yang sama tahun 2025 didorong oleh meningkatnya aktivitas sektor pertambangan yang kembali menunjukkan tren ekspansif. Kenaikan permintaan terhadap komoditas tambang, baik untuk pasar domestik maupun ekspor, mendorong kebutuhan mobilisasi alat berat seperti excavator, bulldozer, dan dump truck, yang secara langsung berdampak pada peningkatan volume kargo yang ditangani perseroan.


"Furthermore, service integration through the Cargo Distribution Management (CDM) approach, including inland logistics support, enables more efficient and scalable heavy equipment distribution. This not only increases throughput but also strengthens IPCC's position as a strategic partner in the heavy equipment and mining industry supply chain. Overall, this improved performance reflects IPCC's ability to adapt and capitalize on opportunities in the non-automotive sector, while strengthening business diversification to maintain sustainable growth amidst global challenges. "Consolidated growth in the truck, bus, and heavy equipment segments shows significant growth and indicates that automotive logistics activities remain positive, while strengthening IPCC's role in supporting the smooth distribution of vehicles for both the domestic and export markets," said Bagus Dwipoyono, IPCC's Director of Operations and Engineering.


In line with strengthening the company's role in supporting a sustainable national industrial supply chain, IPCC is integrating digital-based services by combining connectivity between terminals through the PTOS-C system. "The increase in operational performance in the first quarter of 2026 for various types of cargo served shows that the strategic business innovation initiatives implemented by IPCC are able to respond to the dynamics of industrial needs adaptively and address global geopolitical challenges. Through strengthening the terminal network, optimizing integrated operational systems, and implementing good corporate governance principles, we are optimistic that IPCC can provide sustainable and responsible added value while making a real contribution to supporting cost efficiency in the national industrial supply chain so that it becomes more competitive," said Endah Dwi Liesly, IPCC Corporate Secretary.


(CI-TV/orcom IPCC Editorial Team).

IPCM PRESENTS FEMALE CREW STAFF ON KARTINI DAY, EMPOWERING EQUALITY AT SEA



JAKARTA (CI-TV)  – PT Jasa Armada Indonesia Tbk (IDX: IPCM) as part of the Pelindo Group which operates in the field of ship pilotage and towing services, has reaffirmed its commitment to the principle of sustainability by launching the “Srikandi Maritim IPCM” program, a strategic initiative that promotes gender equality in the maritime operational sector which coincides with the commemoration of Kartini Day.


This program marks a significant milestone for the company, marking the first time IPCM has actively recruited and empowered female crew members in its tugboat fleet, a role previously dominated by men. This step reflects the company's commitment to building an inclusive workplace while strengthening the implementation of Environmental, Social, and Governance (ESG) principles.


Also present at this activity were Chandra Motik, General Chairperson of the Indonesian Women in Maritime Association (WIMA INA), Reini Delfianti, Group Head of Human Resources Management of PT Pelabuhan Indonesia (Persero), Yandri Trisaputra, Executive General Manager of Regional 2 Tanjung Priok, Agusman Katoroy, Acting Senior Manager of Region 2 Region 2 of PT Pelindo Jasa Maritim (PT PJM), Muhammad Irfan Rahim, President Director of PT Intan Sejahtera Utama (PT ISMA), Shanti Puruhita, President Director of PT Jasa Armada Indonesia Tbk as well as the Board of Directors and Personnel of PT Jasa Armada Indonesia Tbk.


Shanti Puruhita, President Director of PT Jasa Armada Indonesia Tbk, stated that this initiative is part of the company's transformation to create sustainable long-term value. "The IPCM Maritime Srikandi Program is not just a symbol, but a concrete action by the company to create equal opportunities for women to develop and contribute in strategic sectors. We believe that diversity will strengthen the company's performance and competitiveness," she said.


The launch of this program also aligns with the company's efforts to support the achievement of the Sustainable Development Goals (SDGs), particularly in aspects 5, namely gender equality, 8, decent work and economic growth, and 10, reducing inequality. Through this program, IPCM not only promotes women's empowerment but also ensures the creation of equitable employment opportunities, improves human resource competencies, and contributes to inclusive economic development.


The Chairperson of WIMA INA, Chandra Motik, expressed his appreciation for the progressive steps taken by IPCM through the Srikandi Maritim program. "IPCM's steps are a concrete example of how the maritime industry is starting to open wider spaces for women. The presence of Srikandi Maritim not only strengthens gender equality but also proves that women have the competence and resilience to contribute directly in a sector that has been dominated by men. We hope this initiative can inspire other industry players to promote inclusivity and diversity in the Indonesian maritime sector," said Chandra Motik.


From a business perspective, the company believes that strengthening the social aspects of ESG will positively impact operational sustainability and increase stakeholder trust, including investors. The implementation of measurable diversity and inclusivity practices is believed to increase productivity, innovation, and strengthen the company's reputation in the maritime industry.


As a growing company, IPCM is committed to making this initiative part of its long-term strategy for human resource development and strengthening good corporate governance. Moving forward, the company will continue to expand its ESG-based programs to create sustainable added value for all stakeholders.


(CI-TV/ Corcom IPCM).

IPCM HADIRKAN AWAK KAPAL PEREMPUAN DI HARI KARTINI, WUJUDKAN KESETARAAN DI LAUT




JAKARTA (ChannelIndonesiaTV.Com)  – PT Jasa Armada Indonesia Tbk (IDX: IPCM) sebagai bagian dari Pelindo Group yang bergerak di bidang jasa pemanduan dan penundaan kapal, kembali menegaskan komitmennya terhadap prinsip keberlanjutan dengan meluncurkan program “Srikandi Maritim IPCM”, sebuah inisiatif strategis yang mendorong kesetaraan gender di sektor operasional maritime yang bertepatan dengan peringatan Hari Kartini.


Program ini menjadi tonggak penting bagi perusahaan, di mana untuk pertama kalinya IPCM secara aktif merekrut dan memberdayakan awak kapal perempuan pada armada kapal tunda, sebuah peran yang selama ini didominasi oleh laki-laki. Langkah ini mencerminkan komitmen nyata perusahaan dalam membangun lingkungan kerja yang inklusif, sekaligus memperkuat implementasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).


Turut hadir dalam kegiatan ini Chandra Motik, Ketua Umum Women In Maritime Association Indonesia (WIMA INA), Reini Delfianti, Group Head Pengelolaan SDM PT Pelabuhan Indonesia (Persero), Yandri Trisaputra, Executive General Manager Regional 2 Tanjung Priok, Agusman Katoroy, Plt. Senior Manager Wilayah 2 Wilayah 2 PT Pelindo Jasa Maritim (PT PJM), Muhammad Irfan Rahim, Direktur Utama PT Intan Sejahtera Utama (PT ISMA), Shanti Puruhita, Direktur Utama PT Jasa Armada Indonesia Tbk serta Jajaran Direksi dan Insan PT Jasa Armada Indonesia Tbk.


Direktur Utama PT Jasa Armada Indonesia Tbk, Shanti Puruhita, menyampaikan bahwa inisiatif ini merupakan bagian dari transformasi perusahaan dalam menciptakan nilai jangka panjang yang berkelanjutan. “Program Srikandi Maritim IPCM bukan sekadar simbol, tetapi merupakan aksi nyata perusahaan dalam membuka ruang yang setara bagi perempuan untuk berkembang dan berkontribusi di sektor strategis. Kami percaya bahwa keberagaman akan memperkuat kinerja dan daya saing perusahaan,” ujar beliau.


Peluncuran program ini juga selaras dengan upaya perusahaan dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya dalam aspek nomor 5 yaitu kesetaraan gender, nomor 8 yaitu pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, dan nomor 10 yaitu berkurangnya kesenjangan. Melalui program ini, IPCM tidak hanya mendorong pemberdayaan perempuan, tetapi juga memastikan terciptanya kesempatan kerja yang adil, peningkatan kompetensi SDM, serta kontribusi terhadap pembangunan ekonomi yang inklusif.


Ketua Umum WIMA INA, Chandra Motik, menyampaikan apresiasinya atas langkah progresif yang dilakukan IPCM melalui program Srikandi Maritim. “Langkah IPCM ini merupakan contoh nyata bagaimana industri maritim mulai membuka ruang yang lebih luas bagi perempuan. Kehadiran Srikandi Maritim tidak hanya memperkuat kesetaraan gender, tetapi juga membuktikan bahwa perempuan memiliki kompetensi dan ketangguhan untuk berkontribusi langsung di sektor yang selama ini didominasi oleh laki-laki. Kami berharap inisiatif ini dapat menjadi inspirasi bagi pelaku industri lainnya untuk mendorong inklusivitas dan keberagaman di sektor kemaritiman Indonesia,” ujar Chandra Motik.


Dari perspektif bisnis, perusahaan memandang bahwa penguatan aspek sosial dalam ESG akan berdampak positif terhadap keberlanjutan operasional dan peningkatan kepercayaan pemangku kepentingan, termasuk investor. Implementasi praktik keberagaman dan inklusivitas yang terukur diyakini dapat meningkatkan produktivitas, inovasi, serta memperkuat reputasi perusahaan di industri maritim.


Sebagai perusahaan yang terus bertumbuh, IPCM berkomitmen untuk menjadikan inisiatif ini sebagai bagian dari strategi jangka panjang dalam pengembangan SDM dan penguatan tata kelola perusahaan yang baik. Ke depan, perusahaan akan terus memperluas program-program berbasis ESG guna menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan.


(Redaksi CI - TC.Com/Corcom IPCM).