Jakarta(3/11) – Arus peti kemas PT Pelindo Terminal Petikemas
sepanjang Januari-September 2026 mencapai 10,31 juta TEUs, atau tumbuh 5,80%
dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan perdagangan
internasional menjadi salah satu pendorong, dengan kenaikan arus peti kemas
mencapai 10,34%, lebih tinggi dibandingkan domestik sebesar 3,57%.
Arus peti kemas internasional mencapai 3,54 juta TEUs, sedangkan
domestik sebanyak 6,77 juta TEUs. Corporate Secretary PT Pelindo Terminal
Petikemas, Fajar Setyono, mengatakan pertumbuhan tersebut didukung aktivitas
pelayanan kapal internasional, penambahan layanan pelayaran baru, serta
optimalisasi fasilitas dan operasional terminal.
Salah satu terminal yang mencatat pertumbuhan tertinggi adalah
Terminal Teluk Lamong (TTL), dengan kenaikan arus peti kemas sebesar 23,12%.
“Hingga September 2026, Terminal Teluk Lamong mencatat 25 kunjungan kapal
internasional nonreguler (ad hoc call) dengan total muatan mencapai 16.014
TEUs,” jelas Fajar, Senin (2/11/2026).
Pertumbuhan tersebut turut didukung kehadiran CSE Service dan SCJX
Service. CSE merupakan layanan joint slot COSCO Shipping Lines dan OOCL dengan
rata-rata bongkar-muat sekitar 1.100 TEUs per kunjungan. Sementara SCJX/SIX
Service merupakan kerja sama Gold Star Line (GSL) dan X-Press Feeders (XPF),
dengan rata-rata bongkar-muat sekitar 1.100 TEUs per kunjungan.
“Kehadiran dua layanan pelayaran baru tersebut turut memperkuat
konektivitas terminal dengan jaringan perdagangan internasional sekaligus
memberikan kontribusi terhadap peningkatan volume bongkar muat peti kemas,”
katanya.
Untuk mengantisipasi pertumbuhan arus peti kemas, Pelindo Terminal
Petikemas memperkuat kapasitas dan kesiapan operasional. Sepanjang 2026,
perusahaan mengadakan empat unit Quay Container Crane (QCC) dan 14 unit
Electric Rubber Tyred Gantry (E-RTG) di TPS, empat unit QCC di TPK Semarang,
dua unit QCC dan empat unit RTG di TPK Belawan, serta empat unit E-RTG di TPK
Banjarmasin. Pengadaan dua unit QCC di TPK Perawang ditargetkan selesai pada
Desember 2026.
“Penguatan fasilitas tersebut merupakan bagian dari langkah
perusahaan dalam meningkatkan keandalan pelayanan dan memperkuat kapasitas
penanganan peti kemas,” kata Fajar.
Perusahaan juga mengoptimalkan perencanaan, pengendalian operasional,
penggunaan peralatan, serta koordinasi dengan pengguna jasa untuk menjaga
kelancaran bongkar muat.
Pasar Ekspor Baru Dorong Pertumbuhan
Wakil Ketua Umum Bidang Maritim dan Pelabuhan DPP Asosiasi
Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI/ILFA), Harry Soetanto, menyambut positif
pertumbuhan arus peti kemas. Peningkatan aktivitas perdagangan menjadi kabar
baik di tengah tantangan ekonomi.
“Kita sangat gembira. Di dalam proses dinamika ekonomi kita yang
sedang sulit, ternyata perdagangan kita tumbuh. Kalau dibandingkan secara year
on year, yakni periode Januari-September 2025 dengan Januari-September 2026,
pertumbuhan perdagangan internasional mencapai 6,85 persen. Nilainya meningkat
dari 14,46 juta pada 2025 menjadi 15,45 juta pada 2026,” ujarnya ketika
dihubungi Senin (2/11/2026).
Harry menilai pertumbuhan perdagangan internasional didorong
perluasan pasar, terutama di Eropa dan Amerika Selatan.
“Kita menemukan beberapa pasar baru, utamanya di Eropa dan Amerika
Selatan. Itu salah satu keberhasilan sehingga terutama ekspor-impor kita naik
dibandingkan domestik,” katanya.
Sementara itu, aktivitas perdagangan domestik relatif terbatas
karena konsumsi belum menunjukkan pergerakan signifikan. Pertumbuhan
internasional didorong ekspor sejumlah komoditas, misalnya seperti turunan
kelapa sawit, mesin dan peralatan, bahan kimia, dan elektronik.
Dari sisi layanan, Harry menilai sejumlah pelabuhan di Jawa yang
melayani ekspor dan impor relatif mampu memenuhi kebutuhan pengguna jasa, meski
masih terdapat catatan.
“Secara umum, kalau secara objektif, masih ada beberapa catatan
kami. Kami melihat masih bisa mengimbangi. Ini dibuktikan di beberapa terminal
yang memperbarui peralatan bongkar muat, terutama yang terbuka untuk
perdagangan internasional,” ungkapnya.
Namun, kesiapan infrastruktur pelabuhan di wilayah timur Indonesia
masih perlu mendapat perhatian.
“Pelabuhan-pelabuhan di Jawa, khususnya yang melakukan kegiatan
importasi dan eksportasi, relatif sudah memenuhi. Tetapi untuk wilayah timur,
memang masih cukup jauh,” tambahnya.
Pertumbuhan Perlu Diikuti Daya Saing
Akademisi dan praktisi manajemen rantai pasok Universitas
Airlangga, Puspandam Katias, mengingatkan pertumbuhan arus peti kemas tidak
bisa menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan perdagangan nasional.
“Pertumbuhan peti kemas merupakan indikator meningkatnya aktivitas
logistik, tetapi belum cukup menjadi bukti meningkatnya daya saing perdagangan
nasional,” ujarnya ketika dihubungi Jumat (30/10/2026).
Menurut Puspandam, peningkatan volume arus peti kemas perlu
diikuti peningkatan nilai tambah domestik, efisiensi rantai pasok, dan daya
saing produk Indonesia. “Pertumbuhan peti kemas merupakan indikator
meningkatnya aktivitas logistik, tetapi belum cukup menjadi bukti meningkatnya
daya saing perdagangan nasional,” ujarnya.
Dia menilai pertumbuhan arus peti kemas internasional sebesar
10,34% perlu dibandingkan dengan data ekspor-impor BPS, komposisi peti kemas
ekspor dan impor, volume peti kemas isi dan kosong, serta perkembangan nilai
perdagangan. Perbandingan tersebut diperlukan untuk memastikan pertumbuhan arus
peti kemas benar-benar mencerminkan penguatan perdagangan luar negeri.
Puspandam juga menyoroti dinamika rute pelayaran internasional,
termasuk penggunaan kembali Terusan Suez secara bertahap oleh sejumlah
perusahaan pelayaran di tengah risiko keamanan Laut Merah. Perubahan rute
perdagangan global tersebut perlu dicermati karena dapat memengaruhi jaringan
pelayaran dan distribusi barang.
Dia mengingatkan pertumbuhan volume harus diikuti efisiensi
jaringan logistik secara keseluruhan. “Tantangan terbesar ke depan adalah
menghindari growth without network efficiency. Artinya, volume peti kemas
bertambah, tetapi biaya, waktu, dan ketidakpastian distribusi di luar terminal
tidak ikut menurun,” ungkapnya.
Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Asosiasi Logistik dan Forwarder
Indonesia (ALFI/ILFA) Jawa Timur, Sebastian Wibisono, S.E., menilai pertumbuhan
arus peti kemas sepanjang Januari-September 2026 menjadi sinyal positif bagi
aktivitas perdagangan dan logistik, khususnya di Jawa Timur.
“Pertumbuhan arus peti kemas ini menunjukkan bahwa kebutuhan
pengiriman barang, terutama untuk kegiatan ekspor dan impor, terus berkembang.
Ini menjadi indikasi positif bagi aktivitas perdagangan dan logistik di Jawa
Timur,” ujarnya, Senin (2/11/2026).
Menurut dia, salah satu faktor yang mendorong pertumbuhan tersebut
adalah semakin kuatnya konektivitas pelayaran internasional. Hal itu terlihat
dari meningkatnya sejumlah kunjungan kapal internasional nonreguler di Terminal
Teluk Lamong.
“Penambahan layanan dan kunjungan kapal ini memberikan lebih
banyak pilihan pengiriman bagi pelaku usaha sekaligus membuka peluang untuk
menjangkau pasar internasional,” katanya.
Wibi juga mengapresiasi langkah Pelindo dalam meningkatkan
kapasitas dan kualitas pelayanan melalui penambahan fasilitas serta modernisasi
peralatan bongkar muat. Salah satunya melalui penambahan empat unit Quay
Container Crane (QCC) dan 14 unit Rubber Tyred Gantry (RTG) di Terminal
Petikemas Surabaya (TPS).
“Namun, bagi pelaku usaha logistik, yang terpenting adalah
bagaimana peningkatan kapasitas tersebut diimbangi dengan kecepatan bongkar
muat, kepastian jadwal kapal, kelancaran keluar masuk peti kemas, serta biaya
logistik yang kompetitif,” jelasnya.
Dia berharap pertumbuhan arus peti kemas terus diikuti peningkatan
kualitas layanan dan konektivitas pelayaran.
“Dengan begitu, aktivitas logistik di Jawa Timur dapat berjalan
semakin lancar dan mampu mendukung daya saing industri serta perdagangan, baik
di pasar domestik maupun internasional,” tuturnya.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar