INDONESIA (Channelindonesiatv.com) - Selat Malaka merupakan salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia dengan estimasi lebih dari 100.000 kapal melintas setiap tahun dan mengangkut sekitar 22 persen perdagangan maritim dunia. Jalur ini juga menjadi koridor utama distribusi energi dunia, di mana sekitar 23 juta barel minyak per hari melintasi kawasan ini.
Posisi strategis tersebut menempatkan Indonesia sebagai aktor kunci dalam
sistem logistik global, terutama melalui keterkaitannya dengan Alur Laut
Kepulauan Indonesia (ALKI) yang menjadi jalur resmi pelayaran internasional
lintas kepulauan.
Founder
& CEO Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi menyatakan kontribusi ekonomi
langsung yang diperoleh Indonesia dari lalu lintas tersebut masih terbatas,
karena sebagian besar kapal hanya melintas tanpa melakukan aktivitas ekonomi.
Indonesia
perlu melakukan pendekatan strategis dengan memanfaatkan intensitas lalu lintas
tersebut sebagai peluang untuk menciptakan nilai tambah ekonomi. Indonesia
perlu bertransformasi dari sekadar negara lintasan (pass-through economy)
menjadi negara penyedia layanan (service-based maritime economy).
Dengan
lebih dari 90.000 kapal yang melintas setiap tahun, bahkan jika hanya 5–10%
kapal melakukan port call di Indonesia, potensi ekonomi yang tercipta sangat
signifikan, baik dari sisi pendapatan pelabuhan, jasa logistik, maupun
multiplier effect terhadap industri pendukung.
Pengalaman
Singapura menunjukkan bahwa nilai ekonomi terbesar dari jalur pelayaran bukan
berasal dari pungutan lintas, melainkan dari layanan bernilai tambah. Singapura
saat ini menjadi hub bunkering terbesar di dunia dengan volume lebih dari 50
juta ton bahan bakar kapal per tahun, serta menangani lebih dari 37 juta TEUs
peti kemas per tahun.
Di
sisi lain, Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan dalam memanfaatkan
peluang tersebut, baik dari sisi kinerja pelabuhan maupun struktur arus muatan.
Kinerja beberapa pelabuhan utama masih tertinggal dalam hal turnaround time dan
efisiensi dibandingkan hub regional, sementara keterbatasan layanan bernilai
tambah seperti bunkering, ship repair, dan transshipment menyebabkan kapal
internasional belum memiliki insentif kuat untuk singgah di Indonesia.
Selain
itu, muatan ekspor-impor yang masih tersebar di berbagai pelabuhan membuat
volume tidak terkonsolidasi, sehingga belum cukup menarik bagi mother vessel
untuk melakukan direct call.
Kondisi
tersebut mendorong operator pelayaran lebih memilih pelabuhan dengan volume
besar dan stabil, sehingga arus ekspor-impor Indonesia masih banyak dilayani
melalui skema transshipment di hub regional seperti Singapura atau Port Klang
yang berdampak terhadap biaya logistik yang lebih tinggi, lead time yang lebih
panjang, serta kehilangan potensi nilai tambah ekonomi yang seharusnya dapat
ditangkap di dalam negeri.
Setijadi
menilai bahwa penguatan peran Indonesia dalam rantai pasok global memerlukan
perubahan paradigma kebijakan. Pengembangan maritime logistics hub di sekitar
Selat Malaka dan ALKI, peningkatan layanan pelabuhan, serta integrasi multimoda
menjadi kunci untuk menarik aktivitas ekonomi ke dalam negeri.
Dengan
strategi yang tepat, Selat Malaka dan ALKI dapat menjadi sumber pertumbuhan
ekonomi baru bagi Indonesia. Pendekatan berbasis layanan tidak hanya sesuai
dengan ketentuan hukum internasional, tetapi juga memberikan dampak ekonomi
yang lebih berkelanjutan. Indonesia memiliki peluang besar untuk bertransformasi
menjadi pemain utama dalam sistem logistik maritim global, bukan hanya sebagai
jalur lintasan, tetapi sebagai pusat aktivitas ekonomi yang bernilai tinggi.
(Redaksi CI-TV.Com/Humas SCI).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar